jump to navigation

Membongkar Tabir Century Gate November 23, 2009

Posted by 4riesibaran1 in Uncategorized.
trackback

Spekulasi seputar kasus Bank Century (BC) yang beredar di masyarakat semakin merebak liar, membuat silang pendapat berbagai pihak semakin runyam. Polemik kasus BC memunculkan tanda tanya besar di publik, mengapa bank ini begitu istimewa. Kasus BC menjadi istimewa karena melibatkan Susno Duadji, Kabareskrim Mabes Polri. Dalam kasus BC, Susno diduga membantu Budi Sampoerna mencairkan uangnya di BC sebesar US$ 18 juta.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memiliki bukti rekaman pembicaraan telepon antara Lucas dengan Susno. Dalam rekaman itu disebut-sebut Susno meminta imbalan Rp 10 miliar kepada Budi Sampoerna melalui Lucas karena telah membantu memuluskan pencairan uang di BC. Terlepas dari pretensi apapun juga, dan tendensius apapun juga, menurut penulis, mempertanyakan untuk apa Susno sampai segitunya ngototnya mengeluarkan surat sakti untuk mencairkan dana nasabah Budi Sampoerna?

Sepanjang pengetahuan penulis belum pernah ada petinggi polisi yang sampai begitu gigih “membela kepentingan seorang nasabah”. Padahal jumlah nasabah BC yang terkena masalah ini jelas sangat banyak. Selain Susno, penulis mencoba menjelaskan peran sesungguhnya Sri Mulyani yang sekarang menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam bailout BC, kasus penyelamatan bank yang kini menjadi sangat politis.
Sinyal yang diberikan Presiden Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dihadapan pemimpin redaksi media massa minggu malam di Istana Negara agar dana talangan BC dibedah secara keseluruhan, merupakan pertanda bahwa hak angket akan berjalan mulus. Penulis berharap pihak-pihak yang terkait dapat dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku. Karena jika dipikirkan dana sebesar 6,7 triliun itu sangat berguna bagi pembangunan bangsa.

Hasil audit sementara atau progress report Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), peran Sri Mulyani adalah sebagai penentu kebijakan penyelamatan BC. Sebagai Ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK), Sri Mulyani mengambil keputusan penyelamatan bank pada 21 November 2008 dalam sebuah rapat menentukan di Departemen Keuangan. Rapat berlangsung dari Kamis malam pukul 23.00 WIB hingga Jumat pagi, pukul 05.00 WIB.

Hadir sebagai peserta rapat Budiono, mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) sekarang menjabat sebagai Wakil Presiden. Budiono menyampaikan bahwa BC telah dinyatakan BI sebagai bank gagal dan ditengarai berdampak sistemik. Kemudian menyerahkan penanganan bank tersebut oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sesuai dengan ketentuan Undang-Undang tentang LPS. Persoalan menjadi menarik karena ternyata LPS menentang pendapat Budiono.

Sementara LPS berpendapat BC telah bermasalah sejak merger 2004, salah satunya adalah permasalahan surat-surat berharga termasuk valas yang tidak bernilai.argumentasi risiko sistemik yang disampaikan BI mengingat pada kondisi saat ini hampir semua bank dapat dikategorikan dapat menimbulkan risiko sitemik, jadi LPS memerlukan justifikasi yang lebih terukur karena apabila menggunakan mekanisme penyelamatan LPS maka akan menggunakan dana bank-bank lain dalam LPS.

Menurut penulis yang perlu diperhatikan apakah keputusan penyelamatan BC dapat menimbulkan sinyal yang dapat menimbulkan moral hazard bagi bank-bank lain. Argumentasi resiko sistemik yang disampaikan BI mengingat pada kondisi saat ini hampir semua bank dapat dikategorikan dapat menimbulkan resiko sistemik. Analisis resiko sistemik yang diberikan BI belum didukung data yang cukup dan terukur untuk menyatakan bahwa BC dapat menimbulkan resiko sistemik lebih kepada analisis dampak psikologis.

Dulu Bank Global pada tahun 2005 sama kasusnya dengan BC, ada persoalan reksadana dan masalah dana antar bank yang cukup besar. Namun, bedanya Bank Global langsung ditutup dan tidak dibawa ke KKSK. Dari sisi lain, apabila bank kecil saja dinyatakan dapat menimbulkan resiko sistemik dapat menimbulkan persepsi bahwa perbankan Indonesia sangat rentan. Dari sisi pasar modal tidak sistemik karena saham BC tidak aktif diperdagangkan. BC dari sisi aset tidak besar, tapi apabila dibandingkan dengan 18 peer bank yang lain.

Pakar ekonomi Kwik Kian Gie mensinyalir bailout BC ditujukan untuk menyelamatkan proses cuci uang (money laundering) dana politik dari luar negeri. Kwik curiga, suntikan dana itu tidak semata-mata ditujukan untuk menyelamatkan ekonomi nasional, tetapi lebih jauh untuk menolong para deposan besar yang menjadi penyumbang dana kampanye. Disini penulis menjadi paham mengapa SBY memilih Budiono mendampingi sebagai Wakilnya.

Kelahiran BC yang sangat bermasalah beserta keseluruhan proses kerusakannya dibiarkan secara sistemik oleh BI. Laporan Keuangan Bank Pikko dan Bank CIC, yang dinyatakan disclaimer oleh Kantor Akuntan Publik (KAP), dijadikan dasar merger. Pemegang saham pengendali yang tidak memenuhi fit and proper test tetap dipertahankan. Pengurus bank, yaitu direksi dan komisaris, ditunjuk tanpa melalui fit and proper test.

Akhirnya harapan kita tergantung hasil audit BPK. Hasil audit BPK sangat tergantung pada laporan PPATK kemana saja dana talangan itu mengalir. Mudah-mudahan kedua lembaga ini dapat membuka tabir yang menyelimuti dana bailout yang begitu besar yang konon diputuskan oleh hanya tiga orang pada waktu orang lain masih tertidur lelap. Terkait hasil hasil akhir audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) penulis berkeyakinan tidak akan bisa membuka tabir yang sesungguhnya terjadi.

Hasil pemeriksaan BPK paling-paling cuma menunjukkan teknis dari penyertaan modal sementara LPS ke BC tidak mengaudit masalah kewenangan. Padahal, akar masalah dari kasus BC adalah soal kebijakan pemerintah mem-bailout bank yang dulu milik pengusaha Robert Tantular tersebut. Kemudian apakah aliran dana dicurigai mengalir ke kocek ”tertentu”. Bila hal itu benar, jargon politik Partai Demokrat katakan ”tidak pada korupsi” akan mendapat ujian.

Hal itu yang sangat sulit untuk dibuktikan karena tidak mudah bagi auditor negara itu untuk mendapatkan hasil analisis yang dilakukan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Pasalnya, BPK tersandung Pasal 26 huruf g UU No. 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Pasal itu menyatakan bahwa dalam melaksanakan fungsinya, PPATK bertugas melaporkan hasil analisis transaksi keuangan yang berindikasi tindakan pencucian uang kepada kepolisian dan kejaksaan.

BPK dalam melakukan audit harus melakukan tiga hal, yakni mengaudit data keuangan, audit kinerja terkait dengan efektivitas dan efisiensi yang dilakukan Bank Century, dan audit tujuan tertentu terkait dengan motif, modus dan skenario aliran dana Bank Century. Perlu adanya revisi terkait dengan UU Tindak Pidana Pencucian Uang. Atau Presiden menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) terkait audit yang dilakukan BPK.

Menurut penulis hal ini diperlukan demi adanya suatu transparansi dan akurasi, sehingga dibutuhkan suatu terobosan dimana Perpu tersebut akan memberikan dukungan kepada BPK secara profesional bahwa suntikan dana yang demikian besar untuk bank yang demikian kecil memang diperlukan. Atau menyerahkan seluruh proses hukum kepada KPK yang bisa menyelesaikan kasus BC. Kalau jaksa, dan kepolisian kita tidak bisa berharap banyak.

Presiden SBY mengatakan akan menyelesaikan kasus Bibit S Rianto dan Chandra M Hamzah melalui mekanisme out of court settlement (di luar pengadilan). Namun istilah out of court settlement tak dikenal dalam hukum pidana. Penyelesaian yang paling mungkin, adalah melalui jalur penghentian perkara seperti dicantumkan dalam rekomendasi Tim 8. Untuk kasus Bibit, jalan terbaik adalah Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3), sedangkan untuk kasus Chandra yang sudah di pengadilan solusinya adalah Surat Perintah Penghentian Penuntutan (SKPP). Hos Arie R Sibarani, S.H., M.H. Dekan Fakultas hukum Universitas Riau Kepulauan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: